Wednesday, August 25, 2010

OJK DAN PENGHAKIMAN BI

Seperti yang dimuat Investor Daily, Duta Masyarakat dan Sriwijaya Post


OPINI

OJK dan Penghakiman (sepihak) Kepada Bank Indonesia

Oleh: Achmad Nur Hidayat MPP[1]

Pengamat Kebijakan Ekonomi Indonesia

Sangatlah berbahaya bila pembentukan OJK dijadikan ajang penghakiman kepada Bank Indonesia atas ketidak-optimalan-nya dalam mengawasi industri perbankan. Akhir-akhir ini Rancangan Undang-undang OJK telah melahirkan semangat nonalignment (tidak berpihak) kepada Bank sentral khususnya terkait pengawasan perbankan. Ini sesungguhnya disebabkan oleh ketidakmampuan Bank sentral dalam melakukan komunikasi antar pemangku kepentingan (stakeholders) khususnya dengan pemerintah dan parlemen.

Sadar atau tidak pembahasan pembentukan OJK di dalam pansus DPR diwarnai dengan semangat yang tidak sehat dalam kehidupan bernegara. Ketidaksehatan ini terjadi karena motivasi pembahasan adalah menghakimi Bank Sentral atas kelalaiannya dalam melakukan pengawasan perbankan seperti kasus Bank Century. Semangat ini begitu kentara pasca Darmin memberikan usulan tentang Dewan Pengawasan Perbankan. ABU-BI istilah yang beramai-ramai dilontarkan bahwa pengawasan micro-prudential perbankan Asal Bukan di BI (ABuBI) lagi.

Kasus bank gagal seperti Bank Century akan selalu ada baik pengawasan perbankan nantinya tetap di BI ataupun terpisah. Kegagalan sebuah Bank tidak hanya disebabkan oleh pengawasannya yang tidak optimal, namun disebabkan banyak faktor. Contoh kasus di Inggris, Perancis dan Jepang menjadi bukti apapun model pengawasannya bank gagal selalu exist dan menghantui sistem keuangan dunia saat ini.

Heffernan S (2003) dalam the Causes of Bank Failures, Handbook of International Banking menyebutkan bahwa banyaknya bank gagal bukan sekedar the imposition of prudential regulations (gangguan pada implementasi peraturan) tapi lebih disebabkan nature struktur arsitektur perbankan yang fragile dan faktor external shock dimana terjadi maturity and currency mismatch yang besar. Bahkan J.F.T. O'Conner (1938) and Fred Graham and James Horner (1988) berkesimpulan faktor mismatch merupakan faktor utama dalam bank gagal.

Kondisi akhir 2008 telah menciptakan iklim ekternal tersebut sehingga bank gagal seperti Bank Century terjadi dan akan kembali berulang pada bank lain bila faktor eksternal sangat unpredictable. Apapun faktor alasan kegagalan bank saat global financial crisis 2008, Bank Indonesia diakui banyak pihak tetap memiliki kelalaian seperti belum berjalannya early warning system yang baik dan terlalu cepatnya BI mengambil kesimpulan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik terhadap dunia perbankan Indonesia.

Singkatnya, kegagalan bank terjadi bukan kesalahan pengawasan semata tetapi faktor external shock yang tidak siap direspon oleh bank-bank tersebut.

Motivasi menentukan outcome OJK

Pembentukan OJK yang sehat apabila kepentingan arsitektur perekonomian nasional menjadi motif utama. Bukan sekedar benturan kepentingan (conflict of interests) antara Bank Sentral, Kementerian Keuangan RI ataupun kepentingan-kepentingan sektoral lainnya.

Lebih berbahaya lagi bila motivasi pembentukan OJK adalah ajang penghakiman bank Indonesia atas kelalaiannya melakukan pengawasan perbankan. Layak atau tidak penghakiman itu, tentunya bersifat subjektif akan tetapi dalam hubungan kelembagaan Negara hal tersebut sangatlah tidak proper. Penghakiman BI secara unconstitutional tersebut akan melahirkan masalah baru terutama dalam hal koordinasi dua institusi antara OJK dan Bank Sentral yang pastinya merugikan masyarakat yang menyimpan asetnya kepada lembaga-lembaga keuangan yang menjadi objek pengawasan dari RUU OJK.

Kehadiran OJK harusnya menjadi mengisi celah kekosongan dari arsitektur pengawasan lembaga keuangan saat ini demi menciptakan iklim sehat baik macro maupun micro-prudential yang berintegrasi satu sama lain. Ironinya, motivasi pembentukan OJK saat ini tidak memiliki keluasan pandangan dan kebijaksanaan yang mendalam. Kepentingan sektoral lebih doniman hadir dibandingkan kepentingan penguatan pengawasan lembaga keuangan nasional.

Miskin Argumen

Kesan ini muncul disebabkan dalam beberapa discourse publik di pansus DPR terkait posisi pengawasan perbankan gagal menjawab pertanyaan pivotal yaitu apakah arsitektur pengawasan lembaga keuangan nasional menjadi lebih baik? Apakah probabilitas bank gagal menjadi lebih kecil? Tidak ada satupun baik BI dan tim penyusun RUU OJK mampu menjaminnya. Hanya argumentasi terkait masalah koordinasi antar BI dan OJK yang baru seolah-olah menjadi persoalan besar. Padahal koordinasi adalah keniscayaan antar otoritas lembaga keuangan baik moneter maupun supervisi.

Usulan Kontroversial Darmin

Usulan Darmin Nasution, pejabat sementara Gubernur BI tentang pembentukan Badan Otonom baru, Dewan Pengawasan Perbankan adalah sebuah kebijaksanaan yang patut mendapat perhatian semua pihak. Darmin sebagai sosok yang dahulu paling bertanggung jawab terhadap kajian akademik RUU OJK, kini lebih terbuka dalam memandang persoalan OJK. Darmin mengakui bahwa conflict of interest adalah penyakit yang selalu ada ketika pengawasan perbankan tetap berada dalam koordinasi Dewan Gubernur BI. Hal ini disebabkan tupoksi BI dalam pengendalian stabilitas moneter yang seringkali bertautan dengan industri perbankan. Karena itu Darmin mengusulkan Dewan Pengawasan Perbankan harus otonom dalam intervensi Dewan Gubernur BI dan dilakukan penyesuaian dimana Dewan tersebut diisi dengan orang luar yang independen dalam memandang pengawasan perbankan.

Darmin seolah berfikir panjang bahwa meminimalisir masalah conflict of interest tidak boleh mengabaikan kecepatan BI dalam mengantisipasi krisis keuangan terutama sektor perbankan. Model double board system dianggap jalan tengah bagi sebuah otoritas supervisi lembaga keuangan. Akan tetapi Darmin melupakan satu hal penting yaitu model double board system belum dapat memperbaiki mistrust publik terhadap peran pengawasan BI akhir-akhir ini.

Pekerjaan rumah bagi Darmin adalah meyakinkan parlemen bahwa antisipasi krisis keuangan membutuhkan keakuratan data dari micro-prudential perbankan. Strategi komunikasi yang baik dengan para pemangku kebijakan lainnya perlu ditangani dengan cara-cara tepat yang legal dan meyakinkan. Cara tersebut adalah Darmin dan BI harus bekerja keras membuktikan bahwa BI saat ini layak mendapatkan trust publik kembali. (Selesai)



[1] Peneliti Senior, Institute Banking and Financial Studies (IBAFIS). Pendapat ini adalah pendapat personal yang tidak mencerminkan pendapat kelembagaan.

Wednesday, February 3, 2010

Achmad Nur Hidayat's Profile

Achmad Nur Hidayat ST MPP (born, November 24, 1981 Age 28 years) is the executive secretary of the Center for Indonesian Youth Movement and the Assistant Manager of Community and Alumni Strategic PPSDMS NF (2009-2010).


Hidayat, colleagues call him, once worked as a national advocacy advisor to the organization's market traders APPSI (2004-2006). In addition, He had also become researchers of the central Indonesian Youth Movement on topic decentralization government in Depok city, West Java (2005) and DKI Jakarta (2006).


In 2007 he awarded a scholarship from the Lee Kuan Yew School Scholarship for his Master of Public Policy at School of Public Policy, National University of Singapore. The policy research of his dissertation was "Fiscal Stimulus 2009 in Indonesia: Tax Rebate or Infrastructure Spending" and He obtained an engineering degree from the Faculty Engineering, University of Indonesia in 2005. As UI student, he awarded scholarship of Japan Airlines Foundation for his undergraduate education.


During his lecture at the University of Indonesia (UI) he was actively mobilized students and became President of Student Executive Board BEM UI in 2003. Hidayat was trusted as the 2nd Chairman of Student board Organization (OSIS) in the country's favorite school in Jakarta.


After graduating from college, Hidayat joined American Companies that associate in the Tyco Group. Hidayat received the Certification of Foreign Anticorruption Practice in 2006 as his commitment to good governance in running International Business.


Hidayat joined exchange program during his study in NUS, Singapore. In fall semester of 2008, he went to Beijing, China to participate in Master International Development Program of School Public Policy and Management, Tsinghua University, Beijing, China (2008). His peer students named Hidayat as The True Man of Asia due to his eager to learn and visit in Asian region such as China (2008), Malaysia (2007) and Japan (2009).


During his Master program in Singapore and China, Hidayat participated actively in cultural exchanges activities and trusted as The Chief of Foreign Student Affairs in the Association of International Culture Exchange or AICE (2009).


In 2009, Hidayat was asked by National University of Singapore for presenting his paper-research of Fiscal Stimulus Policy at the University of Tokyo, Japan.


Hidayat is now coordinator of community leadership of LENTERA-20 that such community objective is preparing future leaders of Indonesia.

(Source: Newsletter of the Center for Indonesian Youth Movement)

Tuesday, January 26, 2010

Achmad Nur Hidayat dalam Profil Singkat (Indonesian Language)

Profil Singkat Achmad Nur Hidayat

Achmad Nur Hidayat ST. MPP (lahir, 24 November 1981; Umur 28 tahun) adalah sekretaris eksekutif Center for Indonesian Youth Movement dan Assisten Manager Komunitas and Alumni Strategis PPSDMS NF (2009-2010).

Hidayat, panggilan rekan dekatnya, pernah bekerja sebagai national advisor bidang advokasi pedagang pasar pada organisasi APPSI (2004-2006). Selain itu pernah juga menjadi peneliti utama dalam riset pilkada depok (2005) dan DKI Jakarta (2006) di Pusat Pergerakan Pemuda Indonesia.

Ditahun 2007 ia menerima beasiswa dari Lee Kuan Yew School Scholarship sehingga dapat menyelesaikan gelar Master Public Policy dari School of public policy National University of Singapore nya dengan topik “Fiscal Stimulus 2009 in Indonesia: Tax Rebate or Infrastructure Spending” dan gelar sarjana teknik didapat dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Semasa kuliah di Universitas Indonesia (UI) dia aktif digerakan mahasiswa dan menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa UI (2003-2004). Sewaktu menjadi mahasiswa UI, dia mendapatkan beasiswa Japan Airlines Foundation untuk menyelesaikan pendidikan sarjana S1nya. Ketika SMA, Hidayat pernah dipercaya sebagai Ketua OSIS II di sekolah favorit negeri di Jakarta Utara.

Setelah lulus kuliah di UI pada tahun 2005, Hidayat bekerja di perusahan Amerika yang terhimpun dalam Tyco Group. Hidayat mendapatkan sertifikasi Foreign Anti Corruptions Practice dari Tyco International Group sebagai komitmennya menjalankan good governance dalam berbisnis.

Selain mendapatkan pendidikan master bidang public Policy, Hidayat juga mendapatkan beasiswa untuk exchange program pendidikan Master bidang International Development di Tsinghua University, Beijing, China (2008). Sewaktu kuliah dia dianugrahi oleh rekan studinya sebagai The Man of Asia karena senangnya berkunjung diwilayah Asia seperti China (2008), Malaysia (2007) dan Japan (2009).

Selama studi masternya di Singapore dan China, Hidayat aktif pada komunikasi pertukaran budaya sehingga dipercaya sebagai Chief of Foreign Student Affairs pada Association of International Culture Exchange (AICE).

Tahun 2009, Hidayat diminta National University of Singapore untuk mempersentasikan thesis Fiscal Stimulus di University of Tokyo, Japan.

Selepas kuliah S2, Hidayat kini menjadi koordinator komunitas kepemimpinan Lentera 20 sebuah komunitas untuk mempersiapkan pemimpin masa depan Indonesia. (Bulletin of Center for Indonesian Youth Movement)

Tuesday, February 10, 2009

Green Comet Approaches Earth

Quoted from: http://science.nasa.gov/headlines/y2009/04feb_greencomet.htm


Green Comet Approaches Earth

02.04.2009 

+ Play Audio | + Download Audio | + Email to a friend | + Join mailing list

February 4, 2009: In 1996, a 7-year-old boy in China bent over the eyepiece of a small telescope and saw something that would change his life--a comet of flamboyant beauty, bright and puffy with an active tail. At first he thought he himself had discovered it, but no, he learned, two men named "Hale" and "Bopp" had beat him to it. Mastering his disappointment, young Quanzhi Ye resolved to find his own comet one day.

And one day, he did.

Fast forward to a summer afternoon in July 2007. Ye, now 19 years old and a student of meteorology at China's Sun Yat-sen University, bent over his desk to stare at a black-and-white star field. The photo was taken nights before by Taiwanese astronomer Chi Sheng Lin on "sky patrol" at the Lulin Observatory. Ye's finger moved from point to point--and stopped. One of the stars was not a star, it was a comet, and this time Ye saw it first.

Comet Lulin, named after the observatory in Taiwan where the discovery-photo was taken, is now approaching Earth. "It is a green beauty that could become visible to the naked eye any day now," says Ye.

Amateur astronomer Jack Newton sends this photo from his backyard observatory in Arizona:

see caption

"My retired eyes still cannot see the brightening comet," says Newton, "but my 14-inch telescope picked it up quite nicely on Feb. 1st."

The comet makes its closest approach to Earth (0.41 AU) on Feb. 24, 2009. Current estimates peg the maximum brightness at 4th or 5th magnitude, which means dark country skies would be required to see it. No one can say for sure, however, because this appears to be Lulin's first visit to the inner solar system and its first exposure to intense sunlight. Surprises are possible.

Lulin's green color comes from the gases that make up its Jupiter-sized atmosphere. Jets spewing from the comet's nucleus contain cyanogen (CN: a poisonous gas found in many comets) and diatomic carbon (C2). Both substances glow green when illuminated by sunlight in the near-vacuum of space.

In 1910, many people panicked when astronomers revealed Earth would pass through the cyanogen-rich tail of Comet Halley. False alarm: The wispy tail of the comet couldn't penetrate Earth's dense atmosphere; even it if had penetrated, there wasn't enough cyanogen to cause real trouble. Comet Lulin will cause even less trouble than Halley did. At closest approach in late February, Lulin will stop 38 million miles short of Earth, utterly harmless.

To see Comet Lulin with your own eyes, set your alarm for 3 am. The comet rises a few hours before the sun and may be found about 1/3rd of the way up the southern sky before dawn. Here are some dates when it is especially easy to find:

sky mapFeb. 6th: Comet Lulin glides by Zubenelgenubi, a double star at the fulcrum of Libra's scales. Zubenelgenubi is not only fun to say (zuBEN-el-JA-newbee), but also a handy guide. You can see Zubenelgenubi with your unaided eye (it is about as bright as stars in the Big Dipper); binoculars pointed at the binary star reveal Comet Lulin in beautiful proximity. [sky map]

Feb. 16th: Comet Lulin passes Spica in the constellation Virgo. Spica is a star of first magnitude and a guidepost even city astronomers cannot miss. A finderscope pointed at Spica will capture Comet Lulin in the field of view, centering the optics within a nudge of both objects. [sky map]

Feb. 24th: Closest approach! On this special morning, Lulin will lie just a few degrees from Saturn in the constellation Leo. Saturn is obvious to the unaided eye, and Lulin could be as well. If this doesn't draw you out of bed, nothing will. [sky map]

Ye notes that Comet Lulin is remarkable not only for its rare beauty, but also for its rare manner of discovery. "This is a 'comet of collaboration' between Taiwanese and Chinese astronomers," he says. "The discovery could not have been made without a contribution from both sides of the Strait that separates our countries. Chi Sheng Lin and other members of the Lulin Observatory staff enabled me to get the images I wanted, while I analyzed the data and found the comet."

Somewhere this month, Ye imagines, another youngster will bend over an eyepiece, see Comet Lulin, and feel the same thrill he did gazing at Comet Hale-Bopp in 1996. And who knows where that might lead...?

"I hope that my experience might inspire other young people to pursue the same starry dreams as myself," says Ye.

SEND THIS STORY TO A FRIEND

Author: Dr. Tony Phillips | Credit: Science@NASA

Comet LULIN will be seen by naked eyes this month... Watch this and wait, something BIG will be happened


"Lulin’s closest approach to Earth, 0.41 a.u. (61 million km), occurs on February 24th, when the comet may be at a peak of magnitude 5. By now it's high up by late evening." 

Comet Lulin will come this month

FIRST REPORTS OF NAKED-EYE VISIBILITY: Comet Lulin is now visible to the naked eye from dark-sky sites. "This morning, Feb 6th, I noticed a faint smudge above Zubenelgenubi," reports Jeff Barton from the Comanche Springs Astronomy Campus in West Texas. "I then trained my 9x63 binoculars on the fuzzy patch. Yep, nailed it! I was thrilled to finally bag Comet Lulin without optical aid."

Another naked-eye sighting report comes from Martin McKenna of Maghera, Northern Ireland: "I went out for a look at Comet Lulin this morning, Feb. 6th, before dawn with my telescope and binoculars. The Moon was very low, so I stood within the shadow of my house and tried to see the comet without optical aid. Using averted vision, I was able to glimpse the comet perhaps a dozen times! It looked like a large grey patch of light very close to Zubenelgenubi. The sight gave me a warm glow on such a frigid frosty night."

Source: http://www.spaceweather.com/comets/gallery_lulin_page7.htm

February 7th: Its reported magnitude is now 6.1.

After moving about 1° per day at the start of February, by February 11th Lulin is creeping westward at 2° per day On that date it crosses into Virgo and passes within a quarter degree of Lambda Virginis. But there's bad moonlight in the early-morning sky from about February 7th through the morning of the 15th or 16th.

On the night of February 15-16 (look around midnight, just before moonrise at your location), Comet Lulin will pass 3° north of Spica. By now the comet’s speed has increased to 3° per day.

On the night of February 23rd, in a moonless sky and near its peak brightness, Comet Lulin is passing 2° south-southwest of Saturn.

Lulin’s closest approach to Earth, 0.41 a.u. (61 million km), occurs on February 24th, when the comet may be at a peak of magnitude 5. By now it's high up by late evening.

On the night of February 25th the comet goes through opposition, nearly 180° from the Sun in our sky. Will there be an "opposition effect" brightening of its dusty coma and dust tail?

And it's now speeding along at just over 5° per day! That's about 1 arcsecond every 5 seconds of time, enough to show obvious motion during a short telescopic observing session. Similarly, that's 1 arcminute per 5 minutes of time if you're using binoculars.

After that Lulin moves away from both Earth and the Sun, so it fades quickly. The evening of February 27 will see it at 5th or 6th magnitude within 1° of Regulus. Moonlight starts interfering again around the 28th.


Source: http://www.skyandtelescope.com/observing/highlights/35992534.html

Wednesday, May 28, 2008

Kenangan Tak terlupakan Anyer 13 Juli 2003

Sahabat, kau telah pergi jauh meninggalkan kami...

Sudah hampir 5 tahun peristiwa itu terjadi...

Tapi kau terasa masih dekat di hati...

Memompakan semangat kami untuk terus berjuang semata untuk masyarakat...

Dirimu wahai pejuang selalu ku ingat...

Doaku untuk mu Dini Wulandarika, Anditama Wahyudi, Muhammad Tauhid, Asep Saefudin, Murniati....

Semoga Allah memberikan surga-Nya atas mu. Amien

Achmad Nur Hidayat 28 Mei 2008


Berikut kenangan kami source: kompas.com tgl 14 Juli 2003

Lima Mahasiswa UI Tewas di Anyer

Jakarta, Kompas - Rumah kecil bercat putih yang berdiri di sebuah gang tiga meter itu tampak muram. Meski lampu TL menyala terang dan sejumlah warga terlihat duduk-duduk, suasana di rumah itu begitu duka ketika Kompas tiba Minggu (13/7) malam.

Sejumlah tikar masih tergelar di halaman rumah, sementara di dalam ruang tamu yang sempit terlihat bangku-bangku sudah tertata rapi kembali. "Semua keluarga mengantar almarhumah ke Jawa, Mas," kata seorang warga.

Murniati (20) adalah satu dari lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tewas dalam musibah di Pantai Cikuya, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, Minggu pagi. Saat peristiwa terjadi, tujuh mahasiswa yang merupakan bagian dari 170 anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, yang baru saja selesai mengikuti rapat kerja BEM UI, itu tengah bermain-main di laut.

Selain Murniati yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, korban tewas lainnya adalah Dini Wulandarika (20) dari Fakultas Ilmu Komputer, Anditama Wahyudi (20) dari Fakultas Ekonomi, Muhammad Tauhid (19) dari Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Asep Saefudin (20) dari Fakultas Ilmu Komputer. Mereka tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2002.

Dua orang dapat diselamatkan, yaitu Dewi Indriyana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Alex dari Fakultas Ilmu Komputer. Keduanya dirawat di Rumah Sakit (RS) Krakatau Steel, Cilegon.

Tiba di rumah duka sekitar pukul 16.00, jenazah Murniati langsung dishalatkan di masjid setempat, di Kampung Buaran I RT 05 RW 08, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Malamnya, sekitar pukul 20.00, jenazah diberangkatkan ke Purworejo, Jawa Tengah, untuk dimakamkan.

"Tadi diantar dengan ambulans. Keluarga pakai Suzuki Carry," ujar Slamet Riyono, warga sekitar yang mengaku tidak begitu akrab dengan keluarga korban.

Menurut sejumlah warga, di kampung yang tidak jauh dari rel kereta api Jatinegara-Bekasi itu hanya ada dua mahasiswa. Akan tetapi, mereka baru tahu bahwa Murniati, yang jarang bergaul dengan warga, adalah mahasiswa UI.

Terpeleset

Informasi yang dihimpun Kompas menyebutkan, para korban diduga terseret arus laut ketika berenang di Pantai Cikuya.

Musibah terjadi ketika rapat kerja (raker) BEM UI yang diselenggarakan sejak Jumat siang itu usai. Raker yang digelar di Vila Bukit Pasau, sekitar 100 meter dari lokasi kejadian, diikuti sekitar 170 mahasiswa.

Menurut Humas BEM UI, Wina, rombongan merencanakan kembali ke Jakarta sekitar pukul 14.00. Sambil menunggu bus jemputan, panitia memberi kelonggaran kepada para peserta untuk beraktivitas bebas.

"Beberapa kali kami mengimbau agar peserta tidak berenang di pantai mengingat kondisi laut yang tidak bersahabat," katanya. Dalam arti, laut tampak berarus dan bergelombang, di samping di Pantai Cikuya banyak karang laut.

Dari hotelnya, Murniati dan kawan-kawan menyeberangi jalan menuju ke pantai. Di sana mereka bermain-main di atas batu karang.

Kepala Kepolisian Resor Cilegon Ajun Komisaris Besar Joko Irianto menyatakan, Pantai Cikuya memang terkenal berarus kuat.

Dua korban tewas, yakni Asep dan Tauhid, ditemukan terakhir, sekitar pukul 15.15 dan 15.30. Mereka terjepit di antara karang.

Dihubungi terpisah, Kepala Kepolisian Sektor Cinangka Inspektur Satu Ade Kusnadi menyatakan, saat bermain-main di atas batu karang itulah Murniati diperkirakan terpeleset dan masuk ke laut. Anditama, Tauhid, dan Asep berusaha menolong, tetapi tak berhasil. Mereka bahkan ikut terjatuh dan terseret arus.

Upaya pencarian segera dilakukan, antara lain oleh tim penyelam dari Komando Pasukan Katak TNI Angkatan Laut dan kelompok penyelam di Pantai Anyer. Tim penyelam berhasil mengangkat semua korban dari laut. Para korban akhirnya dilarikan ke RS Krakatau Steel.

Resmi

Wakil Rektor UI Bidang Kemahasiswaan Arie Soesilo yang ditemui di Kampus UI, Salemba, menyatakan, raker BEM di Anyer itu merupakan raker resmi atas persetujuan rektorat. Sebelum mereka berangkat Jumat lalu, Arie bahkan sempat memberikan pengarahan kepada panitia penyelenggara.

"Ini raker BEM untuk kepengurusan tahun 2003-2004. Kegiatan ini merupakan kegiatan biasa. Dalam pengarahan, kami memang sempat menekankan agar para peserta raker memberikan komitmen penuh dalam menyusun rencana kerja mereka mengingat tahun depan dinamika politik nasional akan tinggi," tuturnya.

Menurut Arie, deputinya, Erwin Nurdin, sempat datang meninjau jalannya raker pada Sabtu lalu. Menurut pemantauan Erwin, raker berjalan sesuai dengan rencana. Peserta raker dijadwalkan kembali ke Jakarta Minggu siang.

Arie mengatakan, kelima korban adalah mahasiswa angkatan 2002. Arie sendiri mendengar musibah itu pada pukul 08.00 dan langsung memberi tahu keluarga korban.

Semula, jenazah akan dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo, tetapi akhirnya langsung diserahkan kepada keluarga masing-masing. (ZAL/RTS/nic)

Tuesday, April 29, 2008

Indonesian Youth Movement Center and NGO

Sentra ITS, Wadah Para Aktivis

15 Maret 2005 12:45:10

Lembaga Swadaya Mahasiswa (LSM) Sentra ITS Jumat pagi (31/12), mendeklarasikan keberadaannya. LSM yang pada tahun 2000 sempat eksis ini ingin menjadi sebuah wadah berkumpulnya para aktivis mahasiswa se-ITS.
Perpustakaan ITS, ITS Online - Seperti yang dikatakan Tomy Nugrahanto Wisudawan dalam sambutannya selaku ketua umum LSM Sentra ITS, Jumat (31/12), "Berdirinya LSM ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menghubungkan potensi-potensi mahasiswa, aktivis kampus agar selepas dari ITS dapat menjadi tokoh-tokoh bangsa yang baik."

Dikatakannya pula, bahwa semua permasalahan yang timbul di negeri ini seperti halnya bencana di Aceh, disebabkan pengelolaan negara oleh pemerintah yang kurang baik. Untuk itu, menurutnya mahasiswa harus mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin-pemimpin bangsa dimasa depan. "Mahasiswa punya potensi menjadi pemimpin. Dan di sini (Sentra ITS, red) kita coba mewujudkannya dengan mengembangkan sisi politik dan sosial kemanusiaan dari mahasiswa," papar mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2000 ini.

Mengenai nama lembaga, Tomy mengungkapkan, dipakainya Sentra ITS agar dapat benar-benar menjadi pusat (sentra) perkembangan di ITS. Ia juga menambahkan, sebenarnya Sentra ITS sempat muncul pada tahun 2000 yang dimotori oleh Mudzakir Uddin. "Tapi memang saat itu konstitusi di ITS belum ada legalitas untuk mendirikan LSM. Jadinya belum bisa maksimal," tambahnya.

Selain launching Sentra ITS, juga dilakukan penggalangan dana untuk korban Aceh dan diskusi dengan narasumber. Ada tiga narasumber yang hadir saat itu, antara lain, Mudzakir Uddin sebagai pendiri LSM Sentra ITS sekaligus mantan presiden BEM ITS pertama, Akhmad Nur Hidayat (Matnur) sebagai Aktivis LSM P3I, lalu dr Ahmad Fahmi dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).

Sebelum sesi diskusi, masing-masing narasumber diberi kesempatan untuk memberikan paparan. Matnur misalnya, dalam kesempatannya, mantan presiden BEM Universitas Indonesia ini banyak mengkritisi mengenai bencana alam di Aceh. Matnur mengatakan, Aceh akan dapat terbantu apabila seluruh swadaya dari masyarakat Indonesia bersatu. "Kalau perlu kita sebagai mahasiswa siap untuk berangkat ke Aceh untuk berjibaku, berjihad membantu dengan segenap jiwa raga kita," Katanya.

Acara yang dihadiri oleh puluhan aktivis mahasiswa ITS ini diakhiri dengan pembacaan dan penandatanganan dokumen deklarasi oleh sembilan orang deklarator LSM Sentra ITS. Berdirinya Sentra ITS sendiri, diharapkan para deklarator, dapat menjadi wadah yang membangun mahasiswa ITS yang berkelanjutan dan mempertahankan independensi mahasiswa. Dengan motto "perubahan dimulai dari orang-orang yang terus bergerak, orang-orang ikhlas dan orang-orang yang berani" mereka mengajak mahasiswa ITS untuk bergabung bersama LSM Sentra ITS. (asa/tov)

Thursday, March 27, 2008

RICHMAN FROM INDONESIA

daftar orang terkaya di Indonesia versi Majalah Globe Asia dan Forbes, adalah Sudono Salim dengan kekayaan US$2,8 miliar, Sukanto Tanoto (US$ 1,3 miliar), Hasjim Djojohadikusumo (US$ 595 juta), Sjamsul Nursalim (US$ 445 juta), Sudwikatmono (US$110 juta), Siti Hardijanti Rukmana (US$ 90 juta).

Sunday, March 16, 2008

Interesting Archive : Indonesia had experiences in term of building diplomatic relationship with Israel

January 1994, Page 19

To Tell the Truth

China and Indonesia Warming Ties With Israel

By Leon T. Hadar

It was not a coincidence that the first official visits outside the Middle East that both Israeli Prime Minister Yitzhak Rabin and Palestine Liberation Organization Chairman Yasser Arafat made, after returning from the Sept. 13 accord-signing ceremony in Washington, were to Beijing and Jakarta. As the world prepares for what most observers believe will be the Pacific Century, both Middle Eastern leaders recognize the growing significance of these two global players in Asia.

China is trying to increase its involvement in the Middle East. In particular, it is interested in playing a role in the Arab/Israeli peace process. This more assertive Chinese Middle East diplomacy is related to Beijing's new international strategy.

First, while during the Cold War the Middle East was dominated by the bipolar competition between the United States and the Soviet Union, the region today seems to revolve around the uni-polar position of the United States. However, the Chinese leaders, who see their country as a rising global superpower, would like to get a piece of the action in the region, even if it means challenging American supremacy.

Indeed, China expects growing political and military tensions with the United States in the coming years, and its strategy is based on developing itself as a diplomatic and military counterweight to the U.S. in the Middle East and in other parts of the Third World.

For their part, Middle Eastern leaders, including both the pro-U.S. Arabs and the Israelis, are concerned over their growing dependence on American power. They seek to diversify their global portfolio, and establishing ties with China is one way of doing that. Playing the "China card," they believe, could provide them with future leverage vis-a-vis Washington.

Secondly, the Chinese expect that the Israel-PLO agreement, followed by Israeli peace accords with Syria and other Arab countries, will produce an investment and trade boom in the region and hope to bid on a large share of the contracts. According to Chinese government figures, the country's trade with the Middle East has reached close to $2.3 billion–and Beijing wants to expand those ties.

Moreover, China's rapid industrialization and economic development is bound to increase its use of energy resources, especially petroleum. While the Chinese search for oil on their own territory, they expect that they will have to increase oil imports. Oil-producing Russia and Indonesia, notwithstanding their geographical proximity, are considered politically unreliable because of their longtime rivalry with China.

As part of its search for new sources of oil, Beijing also is developing a "blue water" navy that could be used to assert its claim to the disputed and potentially oil rich Spratly Islands in the South China Sea. In that context, Chinese leaders hope their expanding relationships in the Middle East will help secure access to Gulf petroleum.

Neutralizing Islamic Radicalism

Third, with the eroding power of communism and the rising influence of Islamic groups in Central Asia and the Middle East, China is concerned over the rise of Islamic political tendencies among its own more than 20 million Muslims. It hopes that its ties with the Muslim nations of the Middle East may help to neutralize moves toward Islamic radicalism and separatism in its provinces.

Asia Watch reports that China has suppressed an armed uprising and violent demonstrations in the Muslim Linxia area of Gansu province, and that there has been increasing violence between Muslims and Han Chinese in the southern part of Xinjiang, another area with a large Uighur Muslim population. Last summer, when Muslim groups apparently attacked a hotel in Kashgar, the Xinjiang capital, the Chinese authorities reacted by banning unauthorized religious tracts and tightening up firearms regulations. Kashgar was the location of a recent meeting of Islamist activists from Pakistan, Iran, Afghanistan and Kashmir.

Beijing is worried, in particular, about secessionist tendencies among Xinjiang's Uighur Muslims. In 1964, thousands of them fled to the former Soviet Union after Chinese authorities suppressed an attempt to establish an independent state in the area and settled thousands of Han Chinese in the region. Many of the former Uighur Muslim residents now are returning to Xinjiang from Central Asia. Beijing is trying to restrict the flow of returnees into Xinjiang across the border from Tajikistan and Kazakhstan. Chinese authorities have asked Iran, Pakistan and Afghanistan to help it in those efforts, and have declared they will suppress any separatist activities.

China enjoys excellent ties with the Arab states as well as Israel and Iran. Over the past two years high-level Chinese officials have exchanged visits with leaders of most of these countries. China was one of the first governments to grant diplomatic recognition to the PLO, and it formally recognized Israel in 1992.

Indeed, Beijing's covert and overt ties with Israel are expanding. China has just granted Israel the right to open a consulate in Shanghai, in addition to its embassy in Beijing, and China has indicated its interest in opening a consulate of its own in Jerusalem, in addition to the Chinese embassy in Tel Aviv.

One key player behind the Sino-Israeli Detente is Shaul Eisenberg. This Israeli businessman with wide connections in China, Japan and other Asian countries has built his fortune in the region since World War II. A man of mystery, Eisenberg has helped establish links between Israeli and Chinese arms industries. The two countries have cooperated extensively on military projects and, according to U.S. government sources, Israel has provided sensitive U.S. military technology to the Chinese. At the same time, the Chinese have been accused of selling such military technology to Iran.

The Chinese, aware of the growing opposition on Capitol Hill to the renewal in June of their most-favored-nation (MFN) trading status, count on their connection with Israel to erode some of the criticism of their human rights policies among members of Congress.

Using the relationship with Israel to gain support in Washington also is a key consideration in the surprising decision by Indonesia to move toward establishing ties with Israel. As part of that effort, the Indonesian government hosted Prime Minister Rabin in Jakarta after his visit to China.

Establishing diplomatic ties with Indonesia, which has the largest Muslim population in the world, would be a major political coup for Israel.

Indonesia's President Suharto is the current chairman of the Non-Aligned Movement and a major figure in the economically powerful Association of South East Asian Nations (ASEAN). Strengthening ties with these two organizations has been a long-term Israeli goal.

Israel has maintained covert ties for a long time with Indonesia. The Israeli Mossad, under the cover of a business office, maintains a large operation in Jakarta, Indonesian officers have been trained in Israel in anti-terrorist methods, and intelligence agencies of both countries have been exchanging information since the late 1960s.

Two Israeli companies, Alhit and BVR, are competing now for a contract to build a sophisticated training installation for Indonesia's air force on the Island of Sumatra, according to reports published six months ago in Military Technology. Other reports suggest that Israel sold Indonesia 28 U.S.-made Skyhawk fighter aircraft in the late 1980s.

Therefore, during the past year, and especially following the signing of the Sept. 13 Israel-PLO accord, Israel has been pressuring Jakarta to move in the direction of some level of formal diplomatic ties. The two countries have already established direct phone and mail service, Israeli businessmen and academics have visited Indonesia, and Indonesian journalists and students made trips to Israel.

A meeting between Israeli Foreign Minister Shimon Peres and Indonesian Foreign Minister Ali Alatas last June, during the U.N. human rights conference in Vienna has been the highest level diplomatic exchange to date between the two countries.

Following that meeting, Israeli Ambassador to Singapore Dany Megido visited Jakarta and met with Indonesian Foreign Ministry officials. One idea raised in the talks was the opening of Protection of Interests offices in Tel Aviv and Jakarta that would operate under the flags of third countries that have diplomatic relations with both countries.

Rabin's somewhat low-key visit to Jakarta (Israeli journalists were not permitted to join the prime minister's entourage during the stop in the Indonesian capital) was preceded by an official visit by PLO Chairman Yasser Arafat. Suharto laid out a head-of-state red carpet for Arafat, and referred to him in a speech as "President of the State of Palestine."

Suharto and Indonesian officials have refrained from giving a full endorsement to the PLO-Israeli accord and are lowering expectations about any major breakthroughs as far as establishing diplomatic ties with Israel are concerned.

However, Indonesia hopes that the rapprochement with Israel will help it with the U.S. Congress, where Indonesia has been accused of human rights violations, especially in the former Portuguese colony of East Timor.

Leon T. Hadar, Washington correspondent of the Business Times of Singapore, writes on Middle Eastern and East Asian issues.

Monday, February 4, 2008

Reason Why study in NUS

“I have chosen to take the LKY SPP NUS in Singapore because it is a vibrant country, a logistic hub, a cultural melting pot, and one of the most business-friendly economies with many multi-national corporations. With its continuous improvement to be the best and its strategic location in Singapore, I think NUS is the best place to be.”


Hidayat

Wednesday, January 30, 2008

Do you need Paper about US Foreign Policy and Israel Lobby ?

Comprehensive Paper about US Foreign Policy and Israel Lobby, click below link:

http://mearsheimer.uchicago.edu/pdfs/A0040.pdf

Do you want explanation about US Foreign Policy and Israel Lobby?

US foreign policy topics in 93.8FM
Perhaps you want to listen that as well, please goto:
http://www.938live.sg/ListDetail.aspx?SubCategoryID=38&Diff=0&Catgrp=CA

click:
1. The Israel lobby and US foreign policy
Its the interview with the strategic expert from Chichago Univ
http://mearsheimer.uchicago.edu/

OUR MODEL DICTATOR

The Guardian
Monday, January 28, 2008

Our Model Dictator

The death of Suharto is a reminder of the west's ignoble role in propping up a murderous regime

By John Pilger

In my film Death of a Nation, there is a sequence filmed on board an Australian aircraft flying over the island of Timor. A party is in progress, and two men in suits are toasting each other in champagne. "This is an historically unique moment," says one of them, "that is truly uniquely historical."

This was Gareth Evans, Australia's then foreign minister. The other man was Ali Alatas, the principal mouthpiece of the Indonesian dictator General Suharto, who died yesterday. The year was 1989, and the two were making a grotesquely symbolic flight to celebrate the signing of a treaty that would allow Australia and the international oil and gas companies to exploit the seabed off East Timor, then illegally and viciously occupied by Suharto. The prize, according to Evans, was "zillions of dollars".

Beneath them lay a land of crosses: great black crosses etched against the sky, crosses on peaks, crosses in tiers on the hillsides. Filming clandestinely in East Timor, I would walk into the scrub, and there were the crosses. They littered the earth and crowded the eye. In 1993, the foreign affairs committee of Australia's parliament reported that "at least 200,000" had died under Indonesia's occupation: almost a third of the population. Yet East Timor's horror, foretold and nurtured by the US, Britain and Australia, was a sequel. "No single American action in the period after 1945," wrote the historian Gabriel Kolko, "was as bloodthirsty as its role in Indonesia, for it tried to initiate the massacre." He was referring to Suharto's seizure of power in 1965-6, which caused the violent deaths of up to a million people.

To understand the significance of Suharto is to look beneath the surface of the current world order: the so-called global economy and the ruthless cynicism of those who run it. Suharto was our model mass murderer - "our" is used here advisedly. "One of our very best and most valuable friends," Thatcher called him. For three decades the south-east Asian department of the Foreign Office worked tirelessly to minimise the crimes of Suharto's gestapo, known as Kopassus, who gunned down people with British-supplied Heckler & Koch machine guns from British-supplied Tactica "riot control" vehicles.

A Foreign Office speciality was smearing witnesses to the bombing of East Timorese villages by British-supplied Hawk aircraft --until Robin Cook was forced to admit it was true. Almost a billion pounds in export credit guarantees financed the sale of the Hawks, paid for by the British taxpayer while the arms industry reaped the profit.

Only the Australians were more obsequious. "We know your people love you," the prime minister Bob Hawke told the dictator to his face. His successor, Paul Keating, regarded the tyrant as a father figure. Paul Kelly, a prominent Murdoch retainer, led a group of major newspaper editors to Jakarta, to fawn before the mass murderer even though they all knew his grisly record.

Here lies a clue as to why Suharto, unlike Saddam Hussein, died not on the gallows but surrounded by the finest medical team his secret billions could buy. Ralph McGehee, a senior CIA operations officer in the 1960s, describes the terror of Suharto's takeover in 1965-6 as "the model operation" for the US-backed coup that got rid of Salvador Allende in Chile seven years later. "The CIA forged a document purporting to reveal a leftist plot to murder Chilean military leaders," he wrote, "[just like] what happened in Indonesia in 1965." The US embassy in Jakarta supplied Suharto with a "zap list" of Indonesian Communist party members and crossed off the names when they were killed or captured. Roland Challis, BBC south-east Asia correspondent at the time, told me how the British government was secretly involved in this slaughter. "British warships escorted a ship full of Indonesian troops down the Malacca Straits so they could take part in the terrible holocaust," he said. "I and other correspondents were unaware of this at the time . . . There was a deal, you see."

The deal was that Indonesia under Suharto would offer up what Richard Nixon had called "the richest hoard of natural resources, the greatest prize in south-east Asia". In November 1967 the greatest prize was handed out at a remarkable three-day conference sponsored by the Time-Life Corporation in Geneva. Led by David Rockefeller, all the corporate giants were represented: the major oil companies and banks, General Motors, Imperial Chemical Industries, British American Tobacco, Siemens, US Steel and many others. Across the table sat Suharto's US-trained economists who agreed to the corporate takeover of their country, sector by sector. The Freeport company got a mountain of copper in West Papua. A US/European consortium got the nickel. The giant Alcoa company got the biggest slice of Indonesia's bauxite. America, Japanese and French companies got the tropical forests of Sumatra. When the plunder was complete,President Lyndon Johnson sent his congratulations on "a magnificent story of opportunity seen and promise awakened". Thirty years later, with the genocide in East Timor also complete, the World Bank described the Suharto dictatorship as a "model pupil".

Shortly before the death of Alan Clark, who under Thatcher was the minister responsible for supplying Suharto with most of his weapons, I interviewed him, and asked: "Did it bother you personally that you were causing such mayhem and human suffering?"

"No, not in the slightest," he replied. "It never entered my head."

"I ask the question because I read you are a vegetarian and are seriously concerned with the way animals are killed."

"Yeah?"

"Doesn't that concern extend to humans?"

"Curiously not."

www.johnpilger. com

Note:
Sekadar mengingatkan, John Pilger adalah wartawan investigasi asal Inggris. Salah satu bukunya adalah 'The Best Democracy Money Can Buy' yang antara lain mengungkapkan bagaimana kebijakan pemerintah Inggris turut ditentukan oleh para pelobi yang dibayar perusahaan-perusaha an besar ketimbang kepentingan publik.

Tuesday, January 29, 2008

BIG DREAMS OF A FUTURE LEADER

Students today leaders tomorrow, I know very well these words are not a joke. I felt from the very first time of my carrier in the higher education, students with a casual style, in the beginning, looked no one and have nothing. But after finishing their study in five, ten to 15 years they become someone and have something. So try always to treat them as good as you can give. Look into their eyes, read them, and guess what they should be in the future. Your prediction should not be too far from the reality.

Once in the middle of the semester, I asked the students:”What’s your dream ? Have you got any objectives in the next ten years ?”

Feel strange, wondering, stare at me. Empty face, nothing to say. Indeed, they don’t even think, that such a question could be even appeared in the class of Research Design, the so called subject. Class conducted in english, difficult in the beginning only, after mid-time, it works well without any problem.

And the assignment the week after is writing in a piece of paper, what is their dream, what they want to be in ten years. The following text chosen among 12 papers to be published, expecting the whole world witnesses the big dreams of a student.-

****

MY DREAM, written by XXX, student in Mechanical Engineering Magister Program, University of Indonesia. In twenty years ahead:

1. I am sitting in a big mosque with my friends, in one of the villages in Lampung, teaching about 100 villagers, male and female, about Islam, management of life, etc. All of them are listening with excitement. They are workers in my chocolate fabric in that village. The cocoa is gathered from the villagers’ plantation, which is about 2000 hectares wide. All of us have been like one big family. The workers have good discipline and high motivation in working, because they realize that working is one of the way to humble to Allah. The villagers are paid with high salary, and they also have part in the corporation’s capital investment. The village itself is clean, beautiful, fresh air everywhere, no useless activities, the young people are good students in their free-payment school in that village.

Together, we are establishing Baitul Maal, that can help the farmers in other villages. We develop a healthy syariah-based economic condition. We are helping the poor, giving fund to the unmarried young men, and taking care of the orphants and sick people. Other area surround us begin to copy what we have done in our village. May Allah bless what we have done.

2. I am sitting in my veranda, in my pretty small house, looking at my flowers and the trees on my wide yard, while my wife and my daughters are preparing cookies on the table. We are waiting for my son, who is coming from Egypt, to take a vacation after his spring course term in Al Azhar Senior High School. In front of me, is my laptop, I’m finishing my fifth book, because the publisher has asked me to finish it right away. They called this morning, “Professor Yahya, excuse us, could you finish the book before next month?” So I replied,”Well, Insya Allah I will try, but you have to understand that I’m preparing the examination for my students in University of Lampung. So let’s see by the end of this month.., thank you.

3. It’s still 3 o’clock in the morning, when I’m walking together with my wife, my children, and also my parents on a very crowded street in Makkah Al Mukarromah. We are going to Masjidil Haram, to pray tahajjud and Subuh there. The sky is still dark, but a strong light of faith is flamming in every of us, hoping only for the mercy from Allah. This is the second time I go here to hajj, after I go hajj for the first time when I was taking my doctoral degree at King Saud University in Riyadh, sixteen years ago.

Aamiin.

From:

Ditulis oleh "my teacher" di/pada Desember 19, 2007

Saturday, January 26, 2008

SOEHARTO DIED, WHAT HAPPENED NEXT???

Former Indonesian dictator Suharto dies

By ZAKKI HAKIM, Associated Press Writer 4 minutes ago

JAKARTA, Indonesia - Former dictator Suharto, an army general who crushed Indonesia's communist movement and pushed aside the country's founding father to usher in 32 years of tough rule that saw up to a million political opponents killed, died Sunday. He was 86.

"He has died," Dr. Christian Johannes told The Associated Press, adding that he died at 1:10 p.m.

Dozens of doctors on Suharto's medical team had been rushed to the Pertamina Hospital in the capital, Jakarta, after his blood pressure fell suddenly Saturday night. Suharto had slipped out of consciousness for the first time in more than three weeks of treatment, doctors said.

Suharto had been in intensive care with lung, heart and kidney failure since he was admitted to the hospital on Jan. 4. Over the past week his physicians had spoken of a recovery, but by Sunday that had changed dramatically.

Suharto, who led a regime widely regarded as one of the 20th century's most brutal and corrupt, has lived a reclusive life in a comfortable villa in downtown Jakarta for the past decade.

He had been in and out of the hospital several times since being toppled by a pro-democracy uprising during the 1997-1998 Asian financial crisis for heart problems and internal bleeding.

Historians say up to 800,000 alleged communist sympathizers were killed during Suharto's rise to power from 1965 to 1968. His troops killed another 300,000 in military operations against independence movements in Papua, Aceh and East Timor.

Suharto's poor health had kept him from facing trial, and no one has been punished for the killings.

Corruption watchdog Transparency International has said Suharto and his family amassed billions of dollars in stolen state funds, allegations the family is fighting in court.

Source: AP

Wednesday, January 16, 2008

Kenangan 2004 bersama Pak Febi (tak pernah terlupakan)

logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Februari 2004 Berita Utama
Line

Delapan Polisi Jadi Tersangka

  • Kasus Pemukulan Mahasiswa

JAKARTA- Delapan polisi menjadi tersangka kasus pemukulan mahasiswa yang tengah berdemo di depan gedung MA saat pembacaan putusan kakasi Akbar Tandjung pada 12 Februari lalu. Jumlah tersebut bisa bertambah.

Demikian penjelasan Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Prasetyo kepada wartawan di Polda, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (18/2). Selama ini, ujar Pras, 32-an polisi telah diperiksa. Mereka terdiri atas empat perwira menengah, 10 perwira pertama, dan sisanya bintara.

Delapan orang menjadi tersangka karena diduga menganiaya ringan dan berat serta melanggar Pasal 351 dan 352 KUHP. "Delapan aparat ini adalah empat dari Dalmas Polda, dua dari Samapta Polres Jakpus, dan dua dari Brimob Polda. Hari ini berkasnya diserahkan ke Reserse Umum," jelas Pras.

Dia mengemukakan, para tersangka dapat berkembang jumlahnya karena kasusnya masih berproses. Kasus ini nantinya akan disidangkan di pengadilan negeri dan bila mereka dipastikan melanggar penganiayaan berat bisa ditahan. "Ini belum final, kami masih mengutamakan pemeriksaan pidana umum. Adapun sanksi administratif menyusul," ungkap Pras.

Dia menjamin pihaknya akan bersikap netral. "Kalau bersalah, kami tahan. Kalau tidak percaya, tunggu saja di persidangan karena apa yang mereka lakukan sudah di luar perintah, di luar komando," tandasnya.

Dia menjelaskan, ketika demo berlangsung di tengah pembacaan putusan kasasi Akbar, tidak ada perintah dari atas untuk memukul para pendemo.

"Jadi kalau memang ada perintah pemukulan, anggota tidak bersalah. Akan tetapi, kasus ini murni kesalahan anggota dan kami bukan mau mengorbankan mereka," paparnya.

Divisum di RSCM

Sementara itu, seorang mahasiswa yang menjadi korban pemukulan polisi saat demo di depan gedung MA ketika sidang putusan kasasi Akbar Tandjung berlangsung, akan menjalani visum di RSCM.

Dia adalah Febi Dwi Rahmadi, mahasiswa semester 10 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Febi menderita luka akibat pukulan di kepala dan pendarahan di mata.

Bersama Delilah korban pemukulan lainnya Febi menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya Jalan Sudirman Jakarta, Rabu (18/2) sebagai saksi korban. Kepada wartawan seusai pemeriksaan, Febi mengaku pandangannya sebelah kanan agak kabur karena dipukul dan diinjak-injak oleh 12-an aparat kepolisian. Selain itu, dia menerima lima jahitan di kepalanya.

Dia juga mengalami luka di lutut kanan dan rusuk kiri kanan dan telinga kanan. "Hari ini saya juga akan mengecek penglihatan saya ke doker spesialitas mata di RSCM," katanya.

Dia tetap berharap, perjuangan mahasiswa tidak berhenti sampai di sini. "Hal ini bisa ditindaklanjuti dengan penerapan hukum terhadap aparat yang terlibat pemukulan," ujarnya.

Febi mengaku mengenali beberapa aparat yang menendang dan memukul dirinya. Ada aparat yang mengenakan baju biru donker (seragam Brimob) dan pakaian dinas biasa warna cokelat.

Lalu materi pemeriksaan polisi apa saja? Dia menuturkan, ditanya soal berapa orang yang datang, tujuan datang ke MA, dan mengapa sampai terjadi benturan dengan polisi.

"Selama diperiksa, di samping saya juga ada aparat yang diperiksa. Saya bisa mengenali beberapa orang di antara mereka yang memukul," ujarnya.

Seperti diberitakan, dalam sidang putusan Akbar di MA yang akhirnya membebaskannya, terjadi bentrokan antara ribuan mahasiswa dan aparat polisi. Lebih kurang 70 mahasiswa menderita luka-luka. Bentrokan diduga terjadi akibat lemparan botol air minum mineral ke polisi.

Sementara itu, Ketua BEM UI Ahmad Nur Hidayat mengatakan, Jumat nanti tiga rekannya yang lain juga akan dimintai keterangan polisi.

Mereka adalah Wahyu Widyatmoko dari Fakultas Teknik, Ahmad Hidayatullah dan Muhidin dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.(dtc-78j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA

Source: http://www.suaramerdeka.com/harian/0402/19/nas2.htm

2004 Publication in media (5)

Mahasiswa demo, orang dekat SBY sibuk

Jakarta, PK

Seleksi para calon menteri di kediaman SBY, Sening (18/10), sedikit terganggu ketika sekitar 100 orang mahasiswa dari BEM dan KAHNMI menggelar aksi demo. Aksi mereka membuat orang terdekat presiden terpilih ini sedikit sibuk. Sudi Silalahi, Andi Malarangeng, Irvan Edison dan beberapa orang terdekat SBY langsung menghampiri para pendemo yang sejak kadatangannya berteriak-teriak di depan pintu gerbang rumahn SBY. "Kami ingin bertemu SBY," kata Ahmad Nur Hidayat, Ketua BEM UI saat ditemui Sudi Silalahi.

"Ya kalau mau ketemu kan tidak perlu teriak-teriak. Ayo beberapa perwakilan kalian masuk dan kita bicarakan apa keinginan kalian," sahut Sudi Silalahi. Sudi juga sempat meminta beberapa mahasiswa yang berorasi di atas mobil agar berhenti. "Stop-stop, ini kan banyak rumah. Lagi pula di belakang ada messjid," kata Sudi.

Begitu pula dengan Andi Malarangeng yang juga minta kepada mahasiswa untuk stop berorasi. Aksi demo semula digelar di gerbang perumahan Puri Cikeas Indah, sekitar 100 meter dari rumah SBY. Pendemo datang dengan menumpang dua metromini dan satu mobil pick-up. Tujuan mereka tidak lain menagih janji SBY untuk membentuk pemerintahan yang bersih, berwibawa dan kredibel.

Dalam orasinya, mereka menilai proses seleksi calon menteri ada tanda-tanda akan terpuruknya kembali negara di bawah tekanan asing. Indikasinya adalah beberapa kandidat menteri ekonomi SBY yang dianggap pro-IMF. Beberapa spanduk juga dibawa beberapa mahasiswa yang antara lain bertuliskan IMF Comeback = Neo Soeharto, Awas Drakula IMF, IMF penghancur ekonomi bangsa.

Sebanyak 10 orang perwakilan pengunjuk rasa akhirnya dibawa Sudi Silalahi, Irvan Edison dan Andi Mallarangeng. Pertemuan berlangsung di pendopo milik SBY. Dalam dialog itu perwakilan mahasiswa tetap bersikeras untuk bertemu langsung dengan SBY. Kebetulan, yang dituju sedang menemui Bambang Sudibyo. Permintaan para mahasiwa akhirnya ditolak. "Yang ingin ketemu Pak SBY ini tidak hanya para mahasiswa, tapi jutaan. Apa kalian tidak tahu kalau saat ini Pak SBY sedang ada tamu," tanya Sudi. "Pokoknya kami ingin ketemu Pak SBY. Kami mau menanyakan komitmen awalnya," celetuk seorang mahasiswa.

Percakapan berlangsung beberapa saat namun, tidak ada kepastian yang membuat mahasiswa langsung meninggalkan pendopo SBY. Entah merasa terganggu atau tidak, salah satu calon menteri dari Partai Amanat Nasional (PAN), Bambang Sudibyo menjelaskan, usai bertemu dengan SBY dirinya malah diajak berbicara masalah demo. Satu jam kemudian, Bambang Sudibyo meninggalkan Cikeas. "Apa yang dibicarakan. Ya di dalam tadi kami hanya berbicara masalah yang umum-umum. Pak SBY malah bicara soal demonstrasi dan tadi sama sekali tidak dites. Saya kan sudah sering duduk berdekatan dengan SBY saat masih menjabat menteri," kata Bambang. (jbp/yat/lya)


Source: http://www.indomedia.com/poskup/2004/10/19/edisi19/1910uta4.htm

2004 Publication in media (4) SUARA MERDEKA

logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 4 Februari 2004 Berita Utama
Line

"Saya Siap Terima Apa pun Putusannya"

  • Hari Ini Akbar Divonis

JAKARTA- Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung menyatakan siap menerima apa pun keputusan Mahkamah Agung (MA) sehubungan dengan akan bertemunya kembali majelis hakim agung di Jakarta, Rabu (4/2), untuk memutuskan permohonan kasasinya.

"Saya sudah siap menerima putusan MA," kata Akbar yang juga Ketua DPR-RI seusai menerima Presiden Rumania Ion Iliescu di gedung MPR/DPR Jakarta, Selasa.

Dia mengemukakan, dia menyerahkan sepenuhnya permohonan kasasinya kepada majelis hakim dan menunggu putusan MA apa pun bentuknya. Namun dia menegaskan, dirinya tetap tidak bersalah dalam kasus penggelapan dana Bulog Rp 40 miliar tersebut.

"Namun sebagaimana menjadi sikap saya sejak awal yang sudah saya sampaikan dalam memori kasasi saya, bahwa saya tidak bersalah, itulah sikap saya sampai hari ini. Saya pada hari-hari ini berdoa, semoga permohonan saya dikabulkan MA," ungkap Akbar.

Menanggapi pertanyaan apa yang akan dilakukannya bila MA tidak mengabulkan permohonan kasasinya, Akbar menjawab, bila keputusan tidak sesuai dengan yang diharapkannya, maka dia akan langsung berkonsultasi dengan penasihat hukumnya tentang upaya hukum apa yang masih bisa dilakukan.

"Saya belum bisa mengatakan apa-apa hari ini, tapi saya memang sudah mempersiapkan satu opsi, yaitu saya akan berkonsultasi dengan penasihat hukum saya soal upaya hukum apa yang masih bisa dilakukan," paparnya.

Akbar juga optimistis, keputusan yang terburuk sekalipun --seperti permohonan kasasinya tidak dikabulkan-- tidak akan memengaruhi kepemimpinannya di partai berlambang pohon beringin itu.

"Hal itu karena saya yakin, teman-teman pun tahu bahwa saya memang tidak bersalah dan saya mengetahui itu, sehingga saya yakin mereka tetap memperlakukan saya sebagai pemimpin (partai) mereka," tandasnya.

Namun dia menekankan, jika MA tidak mengabulkan permohonan kasasinya, dia akan mempertimbangkan kembali pencalonannya sebagai presiden, kendati saat ini masih dalam proses konvensi.

Aksi Tandingan

Sementara itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabotabek dan Front Mahasiswa Universitas Indonesia (FAM UI) menggelar aksi tandingan yang dilakukan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) menjelang putusan Mahkamah Agung (MA) terhadap Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung.

Perwakilan BEM Jabotabek dan FAM UI dalam aksi di depan Gedung MA di Jakarta, Selasa, menyatakan adanya gejala-gejala bahwa lembaga MA sudah terpengaruh oleh pihak-pihak yang tak menginginkan tegaknya supremasi hukum di Indonesia.

Puluhan aktivis mahasiswa tersebut tidak menginginkan proses simbol busuknya kekuasaan negara dirusak oleh kekuatan kelompok lain yang menginginkan kebusukan itu terus langgeng. Para mahasiswa juga memberikan tuntutan untuk memberikan hukuman kepada Akbar Tandjung atas apa yang telah dilakukan.

Menurut Ketua BEM UI Ahmad Nur Hidayat, pihaknya mendukung hakim agung untuk menggunakan nurani bukan intervensi politik, dan mahasiswa siap memberikan dukungan atas putusan yang sebenar-benarnya.

"Kami sangat kecewa atas hakim MA, bila putusan bebas benar terwujud, artinya sudah ada dua lembaga peradilan yang memvonis tiga tahun atas kesalahannya," kata Hidayat.

Dia mengatakan, MA sebagai lembaga tertinggi harus mampu menjaga kewibawaannya sebagai penegak hukum di Indonesia. "Kami akan meminta pertangungjawaban publik terhadap putusan bebas bila itu benar terwujud."

Sedangkan FAM UI menilai, penegakan keadilan oleh hakim Abdul Rachman Saleh dan hakim Parman Suparman diduga akan diarahkan pada upaya membebaskan koruptor. (ant-58tj)

KRONOLOGI KASUS AKBAR

11-02-1999: Rapat Terbatas Presiden Habibie, Mensesneg Akbar Tandjung, Menko Kesra Haryono Suyono membahas rencana pengeluaran dana Bulog Rp 40 miliar untuk penyaluran sembako.

02-03-1999: Deputi Keuangan Bulog, Ruskandar, bersama Ishadi Saleh (rekananBulog) menyerahkan dua cek masing-masing senilai Rp 10 miliar kepada Akbar. Akbar lalu menyerahkan cek kepada Fadel Muhammad dan MS Hidayat (bendahara dan wakil bendahara DPP Golkar).

07-03-1999: Deklarasi Partai Golkar (biaya dikaitkan cek Rp 20 miliar)

20-04-1999: Ruskandar menyerahkan 8 lembar cek senilai Rp 40 miliar, yang dipecah-pecah jadi Rp 2 miliar dan Rp 3 miliar atas permintaan Akbar.

01-02-2001: Menko Perekonomian/Kabulog Rizal Ramli menyatakan ada dana Bulog senilai Rp 90 miliar yang masuk ke kas Golkar.

13-02-2001: Menhan Mahfud MD juga menyatakan Golkar menerima dana Rp 90 miliar dari Bulog menjelang Pemilu 1999.

09-07-2001: Mantan kabulog Rahardi Ramelan ditetapkan sebagai tersangka. Namun Rahardi saat itu masih berada di luar negeri dalam waktu lama.

09-10-2001: Rahardi memenuhi panggilan Kejakgungm dan mengaku cek Rp 40 miliar diserahkan kepada Akbar, Rp 10 miliar untuk Menhankam Wiranto, dan Rp 4,6 diserahkan kepada PT Goro Batara Sakti sebagai pinjaman.

11-10-2001: Akbar mengaku menerima dana, tetapi diserahkan kepada yayasan yang ia sendiri lupa namanya. Belakangan Akbar membantah menerima uang, tetapi hanya melihat Ruskandar menyerahkan cek kepada yayasan.

31-10-2001: Akbar diperiksa Kejakgung dan menyebut Yayasan Raudlatul Jannah.

20-11-2001: Ruskandar bersaksi dana benar-benar diterima Akbar.

21-11 2001: Akbar mengaku hanya melihat cek digeletakkan di atas meja ruang kerjanya.

03-12-2001: Jaksa Agung MA Rachman menyatakan Tim Kejakgung tidak menemukan bukti penyaluran sembako di daerah, seperti pernah disebut Akbar, Dadang Sukandar (ketua yayasan), dan Wilfred Simatupang (rekanan).

10-12-2001: Habibie diperiksa Tim Kejakgung di Hamburg, dan mengaku tak pernah menerima laporan tertulis maupun lisan dari Akbar soal pelaksanaan penyaluran sembako. Ini sekaligus membantah pengakuan Akbar, bahwa ia sudah melaporkan secara lisan kepada Habibie.

05-01-2002: Presiden Megawati memberikan izin bagi Kejakgung untuk menetapkan Akbar sebagai tersangka.

07-01-2002: Kejakgung resmi menetapkan Akbar sebagai tersangka.

28-02-2002: Rahardi Ramelan ditahan di LP Cipinang Jakarta.

07-03-2002: Akbar, Dadang, dan Wilfred ditahan di rutan Kejakgung (belakangan hanya Akbar yang menikmati penangguhan penahanan).

04-11-2002: Majelis Hakim PN Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 3 tahun penjara bagi Akbar (tuntutan jaksa 4 tahun), dalam sidang di Gedung BMG, Kemayoran Jakarta. Akbar mengajukan banding.

17-01-2003: Pengadilan Tinggi Jakarta menolak permohonan banding; mengukuhkan putusan PN Jakarta Pusat (3 tahun). Penasihat Hukum Akbar, Amir Syamsudin, mengajukan kasasi ke MA.

29-01-2004: Lima hakim agung, yang dipimpin Paulus Effendy Lutolong, menunda putusan kasasi pada tanggal 4 Februari 2004.

04-02-2004: ???

(B5-48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA

Source: http://www.suaramerdeka.com/harian/0402/04/nas5.htm