Wednesday, August 25, 2010

OJK DAN PENGHAKIMAN BI

Seperti yang dimuat Investor Daily, Duta Masyarakat dan Sriwijaya Post


OPINI

OJK dan Penghakiman (sepihak) Kepada Bank Indonesia

Oleh: Achmad Nur Hidayat MPP[1]

Pengamat Kebijakan Ekonomi Indonesia

Sangatlah berbahaya bila pembentukan OJK dijadikan ajang penghakiman kepada Bank Indonesia atas ketidak-optimalan-nya dalam mengawasi industri perbankan. Akhir-akhir ini Rancangan Undang-undang OJK telah melahirkan semangat nonalignment (tidak berpihak) kepada Bank sentral khususnya terkait pengawasan perbankan. Ini sesungguhnya disebabkan oleh ketidakmampuan Bank sentral dalam melakukan komunikasi antar pemangku kepentingan (stakeholders) khususnya dengan pemerintah dan parlemen.

Sadar atau tidak pembahasan pembentukan OJK di dalam pansus DPR diwarnai dengan semangat yang tidak sehat dalam kehidupan bernegara. Ketidaksehatan ini terjadi karena motivasi pembahasan adalah menghakimi Bank Sentral atas kelalaiannya dalam melakukan pengawasan perbankan seperti kasus Bank Century. Semangat ini begitu kentara pasca Darmin memberikan usulan tentang Dewan Pengawasan Perbankan. ABU-BI istilah yang beramai-ramai dilontarkan bahwa pengawasan micro-prudential perbankan Asal Bukan di BI (ABuBI) lagi.

Kasus bank gagal seperti Bank Century akan selalu ada baik pengawasan perbankan nantinya tetap di BI ataupun terpisah. Kegagalan sebuah Bank tidak hanya disebabkan oleh pengawasannya yang tidak optimal, namun disebabkan banyak faktor. Contoh kasus di Inggris, Perancis dan Jepang menjadi bukti apapun model pengawasannya bank gagal selalu exist dan menghantui sistem keuangan dunia saat ini.

Heffernan S (2003) dalam the Causes of Bank Failures, Handbook of International Banking menyebutkan bahwa banyaknya bank gagal bukan sekedar the imposition of prudential regulations (gangguan pada implementasi peraturan) tapi lebih disebabkan nature struktur arsitektur perbankan yang fragile dan faktor external shock dimana terjadi maturity and currency mismatch yang besar. Bahkan J.F.T. O'Conner (1938) and Fred Graham and James Horner (1988) berkesimpulan faktor mismatch merupakan faktor utama dalam bank gagal.

Kondisi akhir 2008 telah menciptakan iklim ekternal tersebut sehingga bank gagal seperti Bank Century terjadi dan akan kembali berulang pada bank lain bila faktor eksternal sangat unpredictable. Apapun faktor alasan kegagalan bank saat global financial crisis 2008, Bank Indonesia diakui banyak pihak tetap memiliki kelalaian seperti belum berjalannya early warning system yang baik dan terlalu cepatnya BI mengambil kesimpulan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik terhadap dunia perbankan Indonesia.

Singkatnya, kegagalan bank terjadi bukan kesalahan pengawasan semata tetapi faktor external shock yang tidak siap direspon oleh bank-bank tersebut.

Motivasi menentukan outcome OJK

Pembentukan OJK yang sehat apabila kepentingan arsitektur perekonomian nasional menjadi motif utama. Bukan sekedar benturan kepentingan (conflict of interests) antara Bank Sentral, Kementerian Keuangan RI ataupun kepentingan-kepentingan sektoral lainnya.

Lebih berbahaya lagi bila motivasi pembentukan OJK adalah ajang penghakiman bank Indonesia atas kelalaiannya melakukan pengawasan perbankan. Layak atau tidak penghakiman itu, tentunya bersifat subjektif akan tetapi dalam hubungan kelembagaan Negara hal tersebut sangatlah tidak proper. Penghakiman BI secara unconstitutional tersebut akan melahirkan masalah baru terutama dalam hal koordinasi dua institusi antara OJK dan Bank Sentral yang pastinya merugikan masyarakat yang menyimpan asetnya kepada lembaga-lembaga keuangan yang menjadi objek pengawasan dari RUU OJK.

Kehadiran OJK harusnya menjadi mengisi celah kekosongan dari arsitektur pengawasan lembaga keuangan saat ini demi menciptakan iklim sehat baik macro maupun micro-prudential yang berintegrasi satu sama lain. Ironinya, motivasi pembentukan OJK saat ini tidak memiliki keluasan pandangan dan kebijaksanaan yang mendalam. Kepentingan sektoral lebih doniman hadir dibandingkan kepentingan penguatan pengawasan lembaga keuangan nasional.

Miskin Argumen

Kesan ini muncul disebabkan dalam beberapa discourse publik di pansus DPR terkait posisi pengawasan perbankan gagal menjawab pertanyaan pivotal yaitu apakah arsitektur pengawasan lembaga keuangan nasional menjadi lebih baik? Apakah probabilitas bank gagal menjadi lebih kecil? Tidak ada satupun baik BI dan tim penyusun RUU OJK mampu menjaminnya. Hanya argumentasi terkait masalah koordinasi antar BI dan OJK yang baru seolah-olah menjadi persoalan besar. Padahal koordinasi adalah keniscayaan antar otoritas lembaga keuangan baik moneter maupun supervisi.

Usulan Kontroversial Darmin

Usulan Darmin Nasution, pejabat sementara Gubernur BI tentang pembentukan Badan Otonom baru, Dewan Pengawasan Perbankan adalah sebuah kebijaksanaan yang patut mendapat perhatian semua pihak. Darmin sebagai sosok yang dahulu paling bertanggung jawab terhadap kajian akademik RUU OJK, kini lebih terbuka dalam memandang persoalan OJK. Darmin mengakui bahwa conflict of interest adalah penyakit yang selalu ada ketika pengawasan perbankan tetap berada dalam koordinasi Dewan Gubernur BI. Hal ini disebabkan tupoksi BI dalam pengendalian stabilitas moneter yang seringkali bertautan dengan industri perbankan. Karena itu Darmin mengusulkan Dewan Pengawasan Perbankan harus otonom dalam intervensi Dewan Gubernur BI dan dilakukan penyesuaian dimana Dewan tersebut diisi dengan orang luar yang independen dalam memandang pengawasan perbankan.

Darmin seolah berfikir panjang bahwa meminimalisir masalah conflict of interest tidak boleh mengabaikan kecepatan BI dalam mengantisipasi krisis keuangan terutama sektor perbankan. Model double board system dianggap jalan tengah bagi sebuah otoritas supervisi lembaga keuangan. Akan tetapi Darmin melupakan satu hal penting yaitu model double board system belum dapat memperbaiki mistrust publik terhadap peran pengawasan BI akhir-akhir ini.

Pekerjaan rumah bagi Darmin adalah meyakinkan parlemen bahwa antisipasi krisis keuangan membutuhkan keakuratan data dari micro-prudential perbankan. Strategi komunikasi yang baik dengan para pemangku kebijakan lainnya perlu ditangani dengan cara-cara tepat yang legal dan meyakinkan. Cara tersebut adalah Darmin dan BI harus bekerja keras membuktikan bahwa BI saat ini layak mendapatkan trust publik kembali. (Selesai)



[1] Peneliti Senior, Institute Banking and Financial Studies (IBAFIS). Pendapat ini adalah pendapat personal yang tidak mencerminkan pendapat kelembagaan.

Wednesday, February 3, 2010

Achmad Nur Hidayat's Profile

Achmad Nur Hidayat ST MPP (born, November 24, 1981 Age 28 years) is the executive secretary of the Center for Indonesian Youth Movement and the Assistant Manager of Community and Alumni Strategic PPSDMS NF (2009-2010).


Hidayat, colleagues call him, once worked as a national advocacy advisor to the organization's market traders APPSI (2004-2006). In addition, He had also become researchers of the central Indonesian Youth Movement on topic decentralization government in Depok city, West Java (2005) and DKI Jakarta (2006).


In 2007 he awarded a scholarship from the Lee Kuan Yew School Scholarship for his Master of Public Policy at School of Public Policy, National University of Singapore. The policy research of his dissertation was "Fiscal Stimulus 2009 in Indonesia: Tax Rebate or Infrastructure Spending" and He obtained an engineering degree from the Faculty Engineering, University of Indonesia in 2005. As UI student, he awarded scholarship of Japan Airlines Foundation for his undergraduate education.


During his lecture at the University of Indonesia (UI) he was actively mobilized students and became President of Student Executive Board BEM UI in 2003. Hidayat was trusted as the 2nd Chairman of Student board Organization (OSIS) in the country's favorite school in Jakarta.


After graduating from college, Hidayat joined American Companies that associate in the Tyco Group. Hidayat received the Certification of Foreign Anticorruption Practice in 2006 as his commitment to good governance in running International Business.


Hidayat joined exchange program during his study in NUS, Singapore. In fall semester of 2008, he went to Beijing, China to participate in Master International Development Program of School Public Policy and Management, Tsinghua University, Beijing, China (2008). His peer students named Hidayat as The True Man of Asia due to his eager to learn and visit in Asian region such as China (2008), Malaysia (2007) and Japan (2009).


During his Master program in Singapore and China, Hidayat participated actively in cultural exchanges activities and trusted as The Chief of Foreign Student Affairs in the Association of International Culture Exchange or AICE (2009).


In 2009, Hidayat was asked by National University of Singapore for presenting his paper-research of Fiscal Stimulus Policy at the University of Tokyo, Japan.


Hidayat is now coordinator of community leadership of LENTERA-20 that such community objective is preparing future leaders of Indonesia.

(Source: Newsletter of the Center for Indonesian Youth Movement)

Tuesday, January 26, 2010

Achmad Nur Hidayat dalam Profil Singkat (Indonesian Language)

Profil Singkat Achmad Nur Hidayat

Achmad Nur Hidayat ST. MPP (lahir, 24 November 1981; Umur 28 tahun) adalah sekretaris eksekutif Center for Indonesian Youth Movement dan Assisten Manager Komunitas and Alumni Strategis PPSDMS NF (2009-2010).

Hidayat, panggilan rekan dekatnya, pernah bekerja sebagai national advisor bidang advokasi pedagang pasar pada organisasi APPSI (2004-2006). Selain itu pernah juga menjadi peneliti utama dalam riset pilkada depok (2005) dan DKI Jakarta (2006) di Pusat Pergerakan Pemuda Indonesia.

Ditahun 2007 ia menerima beasiswa dari Lee Kuan Yew School Scholarship sehingga dapat menyelesaikan gelar Master Public Policy dari School of public policy National University of Singapore nya dengan topik “Fiscal Stimulus 2009 in Indonesia: Tax Rebate or Infrastructure Spending” dan gelar sarjana teknik didapat dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Semasa kuliah di Universitas Indonesia (UI) dia aktif digerakan mahasiswa dan menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa UI (2003-2004). Sewaktu menjadi mahasiswa UI, dia mendapatkan beasiswa Japan Airlines Foundation untuk menyelesaikan pendidikan sarjana S1nya. Ketika SMA, Hidayat pernah dipercaya sebagai Ketua OSIS II di sekolah favorit negeri di Jakarta Utara.

Setelah lulus kuliah di UI pada tahun 2005, Hidayat bekerja di perusahan Amerika yang terhimpun dalam Tyco Group. Hidayat mendapatkan sertifikasi Foreign Anti Corruptions Practice dari Tyco International Group sebagai komitmennya menjalankan good governance dalam berbisnis.

Selain mendapatkan pendidikan master bidang public Policy, Hidayat juga mendapatkan beasiswa untuk exchange program pendidikan Master bidang International Development di Tsinghua University, Beijing, China (2008). Sewaktu kuliah dia dianugrahi oleh rekan studinya sebagai The Man of Asia karena senangnya berkunjung diwilayah Asia seperti China (2008), Malaysia (2007) dan Japan (2009).

Selama studi masternya di Singapore dan China, Hidayat aktif pada komunikasi pertukaran budaya sehingga dipercaya sebagai Chief of Foreign Student Affairs pada Association of International Culture Exchange (AICE).

Tahun 2009, Hidayat diminta National University of Singapore untuk mempersentasikan thesis Fiscal Stimulus di University of Tokyo, Japan.

Selepas kuliah S2, Hidayat kini menjadi koordinator komunitas kepemimpinan Lentera 20 sebuah komunitas untuk mempersiapkan pemimpin masa depan Indonesia. (Bulletin of Center for Indonesian Youth Movement)

Tuesday, February 10, 2009

Green Comet Approaches Earth

Quoted from: http://science.nasa.gov/headlines/y2009/04feb_greencomet.htm


Green Comet Approaches Earth

02.04.2009 

+ Play Audio | + Download Audio | + Email to a friend | + Join mailing list

February 4, 2009: In 1996, a 7-year-old boy in China bent over the eyepiece of a small telescope and saw something that would change his life--a comet of flamboyant beauty, bright and puffy with an active tail. At first he thought he himself had discovered it, but no, he learned, two men named "Hale" and "Bopp" had beat him to it. Mastering his disappointment, young Quanzhi Ye resolved to find his own comet one day.

And one day, he did.

Fast forward to a summer afternoon in July 2007. Ye, now 19 years old and a student of meteorology at China's Sun Yat-sen University, bent over his desk to stare at a black-and-white star field. The photo was taken nights before by Taiwanese astronomer Chi Sheng Lin on "sky patrol" at the Lulin Observatory. Ye's finger moved from point to point--and stopped. One of the stars was not a star, it was a comet, and this time Ye saw it first.

Comet Lulin, named after the observatory in Taiwan where the discovery-photo was taken, is now approaching Earth. "It is a green beauty that could become visible to the naked eye any day now," says Ye.

Amateur astronomer Jack Newton sends this photo from his backyard observatory in Arizona:

see caption

"My retired eyes still cannot see the brightening comet," says Newton, "but my 14-inch telescope picked it up quite nicely on Feb. 1st."

The comet makes its closest approach to Earth (0.41 AU) on Feb. 24, 2009. Current estimates peg the maximum brightness at 4th or 5th magnitude, which means dark country skies would be required to see it. No one can say for sure, however, because this appears to be Lulin's first visit to the inner solar system and its first exposure to intense sunlight. Surprises are possible.

Lulin's green color comes from the gases that make up its Jupiter-sized atmosphere. Jets spewing from the comet's nucleus contain cyanogen (CN: a poisonous gas found in many comets) and diatomic carbon (C2). Both substances glow green when illuminated by sunlight in the near-vacuum of space.

In 1910, many people panicked when astronomers revealed Earth would pass through the cyanogen-rich tail of Comet Halley. False alarm: The wispy tail of the comet couldn't penetrate Earth's dense atmosphere; even it if had penetrated, there wasn't enough cyanogen to cause real trouble. Comet Lulin will cause even less trouble than Halley did. At closest approach in late February, Lulin will stop 38 million miles short of Earth, utterly harmless.

To see Comet Lulin with your own eyes, set your alarm for 3 am. The comet rises a few hours before the sun and may be found about 1/3rd of the way up the southern sky before dawn. Here are some dates when it is especially easy to find:

sky mapFeb. 6th: Comet Lulin glides by Zubenelgenubi, a double star at the fulcrum of Libra's scales. Zubenelgenubi is not only fun to say (zuBEN-el-JA-newbee), but also a handy guide. You can see Zubenelgenubi with your unaided eye (it is about as bright as stars in the Big Dipper); binoculars pointed at the binary star reveal Comet Lulin in beautiful proximity. [sky map]

Feb. 16th: Comet Lulin passes Spica in the constellation Virgo. Spica is a star of first magnitude and a guidepost even city astronomers cannot miss. A finderscope pointed at Spica will capture Comet Lulin in the field of view, centering the optics within a nudge of both objects. [sky map]

Feb. 24th: Closest approach! On this special morning, Lulin will lie just a few degrees from Saturn in the constellation Leo. Saturn is obvious to the unaided eye, and Lulin could be as well. If this doesn't draw you out of bed, nothing will. [sky map]

Ye notes that Comet Lulin is remarkable not only for its rare beauty, but also for its rare manner of discovery. "This is a 'comet of collaboration' between Taiwanese and Chinese astronomers," he says. "The discovery could not have been made without a contribution from both sides of the Strait that separates our countries. Chi Sheng Lin and other members of the Lulin Observatory staff enabled me to get the images I wanted, while I analyzed the data and found the comet."

Somewhere this month, Ye imagines, another youngster will bend over an eyepiece, see Comet Lulin, and feel the same thrill he did gazing at Comet Hale-Bopp in 1996. And who knows where that might lead...?

"I hope that my experience might inspire other young people to pursue the same starry dreams as myself," says Ye.

SEND THIS STORY TO A FRIEND

Author: Dr. Tony Phillips | Credit: Science@NASA

Comet LULIN will be seen by naked eyes this month... Watch this and wait, something BIG will be happened


"Lulin’s closest approach to Earth, 0.41 a.u. (61 million km), occurs on February 24th, when the comet may be at a peak of magnitude 5. By now it's high up by late evening." 

Comet Lulin will come this month

FIRST REPORTS OF NAKED-EYE VISIBILITY: Comet Lulin is now visible to the naked eye from dark-sky sites. "This morning, Feb 6th, I noticed a faint smudge above Zubenelgenubi," reports Jeff Barton from the Comanche Springs Astronomy Campus in West Texas. "I then trained my 9x63 binoculars on the fuzzy patch. Yep, nailed it! I was thrilled to finally bag Comet Lulin without optical aid."

Another naked-eye sighting report comes from Martin McKenna of Maghera, Northern Ireland: "I went out for a look at Comet Lulin this morning, Feb. 6th, before dawn with my telescope and binoculars. The Moon was very low, so I stood within the shadow of my house and tried to see the comet without optical aid. Using averted vision, I was able to glimpse the comet perhaps a dozen times! It looked like a large grey patch of light very close to Zubenelgenubi. The sight gave me a warm glow on such a frigid frosty night."

Source: http://www.spaceweather.com/comets/gallery_lulin_page7.htm

February 7th: Its reported magnitude is now 6.1.

After moving about 1° per day at the start of February, by February 11th Lulin is creeping westward at 2° per day On that date it crosses into Virgo and passes within a quarter degree of Lambda Virginis. But there's bad moonlight in the early-morning sky from about February 7th through the morning of the 15th or 16th.

On the night of February 15-16 (look around midnight, just before moonrise at your location), Comet Lulin will pass 3° north of Spica. By now the comet’s speed has increased to 3° per day.

On the night of February 23rd, in a moonless sky and near its peak brightness, Comet Lulin is passing 2° south-southwest of Saturn.

Lulin’s closest approach to Earth, 0.41 a.u. (61 million km), occurs on February 24th, when the comet may be at a peak of magnitude 5. By now it's high up by late evening.

On the night of February 25th the comet goes through opposition, nearly 180° from the Sun in our sky. Will there be an "opposition effect" brightening of its dusty coma and dust tail?

And it's now speeding along at just over 5° per day! That's about 1 arcsecond every 5 seconds of time, enough to show obvious motion during a short telescopic observing session. Similarly, that's 1 arcminute per 5 minutes of time if you're using binoculars.

After that Lulin moves away from both Earth and the Sun, so it fades quickly. The evening of February 27 will see it at 5th or 6th magnitude within 1° of Regulus. Moonlight starts interfering again around the 28th.


Source: http://www.skyandtelescope.com/observing/highlights/35992534.html

Wednesday, May 28, 2008

Kenangan Tak terlupakan Anyer 13 Juli 2003

Sahabat, kau telah pergi jauh meninggalkan kami...

Sudah hampir 5 tahun peristiwa itu terjadi...

Tapi kau terasa masih dekat di hati...

Memompakan semangat kami untuk terus berjuang semata untuk masyarakat...

Dirimu wahai pejuang selalu ku ingat...

Doaku untuk mu Dini Wulandarika, Anditama Wahyudi, Muhammad Tauhid, Asep Saefudin, Murniati....

Semoga Allah memberikan surga-Nya atas mu. Amien

Achmad Nur Hidayat 28 Mei 2008


Berikut kenangan kami source: kompas.com tgl 14 Juli 2003

Lima Mahasiswa UI Tewas di Anyer

Jakarta, Kompas - Rumah kecil bercat putih yang berdiri di sebuah gang tiga meter itu tampak muram. Meski lampu TL menyala terang dan sejumlah warga terlihat duduk-duduk, suasana di rumah itu begitu duka ketika Kompas tiba Minggu (13/7) malam.

Sejumlah tikar masih tergelar di halaman rumah, sementara di dalam ruang tamu yang sempit terlihat bangku-bangku sudah tertata rapi kembali. "Semua keluarga mengantar almarhumah ke Jawa, Mas," kata seorang warga.

Murniati (20) adalah satu dari lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tewas dalam musibah di Pantai Cikuya, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, Minggu pagi. Saat peristiwa terjadi, tujuh mahasiswa yang merupakan bagian dari 170 anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, yang baru saja selesai mengikuti rapat kerja BEM UI, itu tengah bermain-main di laut.

Selain Murniati yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, korban tewas lainnya adalah Dini Wulandarika (20) dari Fakultas Ilmu Komputer, Anditama Wahyudi (20) dari Fakultas Ekonomi, Muhammad Tauhid (19) dari Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Asep Saefudin (20) dari Fakultas Ilmu Komputer. Mereka tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2002.

Dua orang dapat diselamatkan, yaitu Dewi Indriyana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Alex dari Fakultas Ilmu Komputer. Keduanya dirawat di Rumah Sakit (RS) Krakatau Steel, Cilegon.

Tiba di rumah duka sekitar pukul 16.00, jenazah Murniati langsung dishalatkan di masjid setempat, di Kampung Buaran I RT 05 RW 08, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Malamnya, sekitar pukul 20.00, jenazah diberangkatkan ke Purworejo, Jawa Tengah, untuk dimakamkan.

"Tadi diantar dengan ambulans. Keluarga pakai Suzuki Carry," ujar Slamet Riyono, warga sekitar yang mengaku tidak begitu akrab dengan keluarga korban.

Menurut sejumlah warga, di kampung yang tidak jauh dari rel kereta api Jatinegara-Bekasi itu hanya ada dua mahasiswa. Akan tetapi, mereka baru tahu bahwa Murniati, yang jarang bergaul dengan warga, adalah mahasiswa UI.

Terpeleset

Informasi yang dihimpun Kompas menyebutkan, para korban diduga terseret arus laut ketika berenang di Pantai Cikuya.

Musibah terjadi ketika rapat kerja (raker) BEM UI yang diselenggarakan sejak Jumat siang itu usai. Raker yang digelar di Vila Bukit Pasau, sekitar 100 meter dari lokasi kejadian, diikuti sekitar 170 mahasiswa.

Menurut Humas BEM UI, Wina, rombongan merencanakan kembali ke Jakarta sekitar pukul 14.00. Sambil menunggu bus jemputan, panitia memberi kelonggaran kepada para peserta untuk beraktivitas bebas.

"Beberapa kali kami mengimbau agar peserta tidak berenang di pantai mengingat kondisi laut yang tidak bersahabat," katanya. Dalam arti, laut tampak berarus dan bergelombang, di samping di Pantai Cikuya banyak karang laut.

Dari hotelnya, Murniati dan kawan-kawan menyeberangi jalan menuju ke pantai. Di sana mereka bermain-main di atas batu karang.

Kepala Kepolisian Resor Cilegon Ajun Komisaris Besar Joko Irianto menyatakan, Pantai Cikuya memang terkenal berarus kuat.

Dua korban tewas, yakni Asep dan Tauhid, ditemukan terakhir, sekitar pukul 15.15 dan 15.30. Mereka terjepit di antara karang.

Dihubungi terpisah, Kepala Kepolisian Sektor Cinangka Inspektur Satu Ade Kusnadi menyatakan, saat bermain-main di atas batu karang itulah Murniati diperkirakan terpeleset dan masuk ke laut. Anditama, Tauhid, dan Asep berusaha menolong, tetapi tak berhasil. Mereka bahkan ikut terjatuh dan terseret arus.

Upaya pencarian segera dilakukan, antara lain oleh tim penyelam dari Komando Pasukan Katak TNI Angkatan Laut dan kelompok penyelam di Pantai Anyer. Tim penyelam berhasil mengangkat semua korban dari laut. Para korban akhirnya dilarikan ke RS Krakatau Steel.

Resmi

Wakil Rektor UI Bidang Kemahasiswaan Arie Soesilo yang ditemui di Kampus UI, Salemba, menyatakan, raker BEM di Anyer itu merupakan raker resmi atas persetujuan rektorat. Sebelum mereka berangkat Jumat lalu, Arie bahkan sempat memberikan pengarahan kepada panitia penyelenggara.

"Ini raker BEM untuk kepengurusan tahun 2003-2004. Kegiatan ini merupakan kegiatan biasa. Dalam pengarahan, kami memang sempat menekankan agar para peserta raker memberikan komitmen penuh dalam menyusun rencana kerja mereka mengingat tahun depan dinamika politik nasional akan tinggi," tuturnya.

Menurut Arie, deputinya, Erwin Nurdin, sempat datang meninjau jalannya raker pada Sabtu lalu. Menurut pemantauan Erwin, raker berjalan sesuai dengan rencana. Peserta raker dijadwalkan kembali ke Jakarta Minggu siang.

Arie mengatakan, kelima korban adalah mahasiswa angkatan 2002. Arie sendiri mendengar musibah itu pada pukul 08.00 dan langsung memberi tahu keluarga korban.

Semula, jenazah akan dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo, tetapi akhirnya langsung diserahkan kepada keluarga masing-masing. (ZAL/RTS/nic)

Tuesday, April 29, 2008

Indonesian Youth Movement Center and NGO

Sentra ITS, Wadah Para Aktivis

15 Maret 2005 12:45:10

Lembaga Swadaya Mahasiswa (LSM) Sentra ITS Jumat pagi (31/12), mendeklarasikan keberadaannya. LSM yang pada tahun 2000 sempat eksis ini ingin menjadi sebuah wadah berkumpulnya para aktivis mahasiswa se-ITS.
Perpustakaan ITS, ITS Online - Seperti yang dikatakan Tomy Nugrahanto Wisudawan dalam sambutannya selaku ketua umum LSM Sentra ITS, Jumat (31/12), "Berdirinya LSM ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menghubungkan potensi-potensi mahasiswa, aktivis kampus agar selepas dari ITS dapat menjadi tokoh-tokoh bangsa yang baik."

Dikatakannya pula, bahwa semua permasalahan yang timbul di negeri ini seperti halnya bencana di Aceh, disebabkan pengelolaan negara oleh pemerintah yang kurang baik. Untuk itu, menurutnya mahasiswa harus mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin-pemimpin bangsa dimasa depan. "Mahasiswa punya potensi menjadi pemimpin. Dan di sini (Sentra ITS, red) kita coba mewujudkannya dengan mengembangkan sisi politik dan sosial kemanusiaan dari mahasiswa," papar mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2000 ini.

Mengenai nama lembaga, Tomy mengungkapkan, dipakainya Sentra ITS agar dapat benar-benar menjadi pusat (sentra) perkembangan di ITS. Ia juga menambahkan, sebenarnya Sentra ITS sempat muncul pada tahun 2000 yang dimotori oleh Mudzakir Uddin. "Tapi memang saat itu konstitusi di ITS belum ada legalitas untuk mendirikan LSM. Jadinya belum bisa maksimal," tambahnya.

Selain launching Sentra ITS, juga dilakukan penggalangan dana untuk korban Aceh dan diskusi dengan narasumber. Ada tiga narasumber yang hadir saat itu, antara lain, Mudzakir Uddin sebagai pendiri LSM Sentra ITS sekaligus mantan presiden BEM ITS pertama, Akhmad Nur Hidayat (Matnur) sebagai Aktivis LSM P3I, lalu dr Ahmad Fahmi dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).

Sebelum sesi diskusi, masing-masing narasumber diberi kesempatan untuk memberikan paparan. Matnur misalnya, dalam kesempatannya, mantan presiden BEM Universitas Indonesia ini banyak mengkritisi mengenai bencana alam di Aceh. Matnur mengatakan, Aceh akan dapat terbantu apabila seluruh swadaya dari masyarakat Indonesia bersatu. "Kalau perlu kita sebagai mahasiswa siap untuk berangkat ke Aceh untuk berjibaku, berjihad membantu dengan segenap jiwa raga kita," Katanya.

Acara yang dihadiri oleh puluhan aktivis mahasiswa ITS ini diakhiri dengan pembacaan dan penandatanganan dokumen deklarasi oleh sembilan orang deklarator LSM Sentra ITS. Berdirinya Sentra ITS sendiri, diharapkan para deklarator, dapat menjadi wadah yang membangun mahasiswa ITS yang berkelanjutan dan mempertahankan independensi mahasiswa. Dengan motto "perubahan dimulai dari orang-orang yang terus bergerak, orang-orang ikhlas dan orang-orang yang berani" mereka mengajak mahasiswa ITS untuk bergabung bersama LSM Sentra ITS. (asa/tov)